oleh : Iwan Sugihartono
Profesor. Abdus Salam dalam bukunya Ideal and realities mengungkapkan bahwa sains di negara berkembang telah diperlakukan sebagai kegiatan marjinal (marginal activities) dan dianggap sebagai perhiasan (ornament). Namun, pada umumnya negara berkembang tidak mengakui kondisi tersebut. Justeru sebaliknya, mereka mengklaim bahwa kehidupan social masyarakat di negara berkembang adalah produk perpaduan antara sain modern dan teknologi. Meskipun demikian dalam pengamatan penulis, beberapa negara berkembang sudah mulai peduli dengan pentingnya peran sain dan teknologi. Dengan adanya kepedulian ini, tidak serta merta mudah dalam merealisasikan pengembangan dan mempopulerkan sain dan teknologi dalam lingkungan masyarakat. Mengapa demikian? Faktor infrastruktur yang masih jauh dari memadai menjadi faktor kritis penghambat kemajuan sain dan teknologi di negara berkembang, terlebih lagi belum ada kebijakan signifikan dari pemerintah. Rajagopalan dalam bukunya Technology Information Base in India: A Development Perspective melaporkan bahwa perbandingan antara jumlah peneliti di Negara maju per 100.000 jumlah penduduk pada awal tahun 90-an di Amerika perbandingannya adalah 280 orang per 100.000 penduduk, Jepang 240, Jerman 150, Inggris 140. Jika dilihat dari growth national product (GNP), dana pendidikan dan riset di Negara berkembang masih belum mencukupi.
Bagaimana kondisi Indonesia? Di harian Kompas 16/12/ 2008, Dr. Abd. Haris sebagai sekretaris eksekutif forum mipa-net menyatakan bahwa laboratorium mipa se-Indonesia ketinggalan jaman”jadul”. Dari harian Sumatera Express 12/10/2008, Dr. Terry Mart mengungkapkan bahwa pada tahun 2004 peneliti di Amerika sudah mencatatkan 198000 jurnal internasional, sedangkan Indonesia hanya 87 penelitian. Bahkan hasil pantauan penulis di web of science database, hasil penelitian lintas bidang dari Indonesia yang dipublikasikan di jurnal international pada tahun 2008 masih jauh tertinggal dibandingkan dengan Negara Singapura, Thailand, Malaysia, bahkan Vietnam yang notabene secara ekonomi tidak lebih baik dari Indonesia. Ini adalah indikasi bahwa kemampuan sumber daya manusia dan infra structure dalam membangun sain dan teknologi menjadi hal kritis. Dari kondisi ini penulis menilai bahwa cita-cita beberapa universitas top (UI, ITB, UGM, IPB) menjadi world class university masih jauh dari realita jika tidak didukung oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam membangun sarana dan infra struktur yang ideal.