Oleh: excitonindo | Juli 7, 2010

Air Selokan untuk Pembangkit Listrik

Liputan6.com, Yogyakarta: Tarif dasar listrik bagi pelanggan di atas 1.300  mulai naik per 1 Juli 2010. Namun ternyata hal itu tidak berpengaruh bagi warga Desa Sendangrejo, Minggir, Sleman, Yogyakarta. Sebab sejak lima tahun lalu warga setempat berhasil membuat pembangkit listrik tenaga mikro hidro.

Dengan memanfaatkan air selokan Van Der Wijck sepanjang satu kilometer, pembangkit listrik tenaga mikro hidro dapat diolah warga menjadi sumber daya energi alternatif. Pembangkit mikro hidro dengan daya mencapai sepuluh kwh ini telah mampu untuk menerangi balai desa dan tiga puluh rumah warga.

Cara kerja pembangkit listrik tenaga mikro hidro terbilang sederhana. Pertama air selokan ditampung dalam bak penenang lalu diolah ke bak turbin. Dari bak turbin kemudian dihubungkan ke generator menggunakan panel kontrol agar dapat menghasilkan listrik yang selanjutnya dialirkan ke rumah warga.

Meski masih belum dapat menghasilkan daya yang maksimal, keberadaan pembangkit mikor hidro yang dibangun dengan menghabiskan dana sekitar Rp 300 juta ini setidaknya mengurangi beban warga terhadap kenaikan tarif dasar listrik. Warga tenang karena jatah uang belanja tidak terganggu kenaikan TDL.(JUM)

sumber : http://berita.liputan6.com/sosbud/201007/284277/Air.Selokan.untuk.Pembangkit.Listrik

Selokan Bisa Dipasangi Pembangkit Listrik Picohydro

Bandung, Cybernews. Asalkan air terus mengalir, selokan yang berada di sekitar pemukiman dapat dipasangi pembangkit listrik tenaga air skala picohydro. Daya listrik yang dihasilkan pun relatif cukup untuk menerangi satu kampung yakni antara 1-2 KW per unit. Pembangkit itu dinilai cocok untuk kawasan yang selama ini tidak terjangkau jaringan listrik PLN.

“Lebar selokannya bisa sekitar 1 meter, kedalamannya sekitar 30 Cm. Sepanjang airnya mengalir deras itu sudah cukup menggerakan turbin guna menghasilkan listrik,” jelas Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Dr Syahrul Aiman di Bandung, Jumat (19/3).

Menurut dia, pembangkit listrik picohydro buatan LIPI itu sudah siap operasi. Pihaknya bahkan telah memasang satu unit pembangkit itu di kawasan Kebun Raya Cibodas, Bogor sejak Januari lalu. Sebelumnya, peneliti lembaga penelitian pemerintah itu telah melakukan penelitian selama dua tahun.

Apabila dioperasikan, pembangkit listrik skala kecil itu bisa menerangi sampai 20 rumah dengan pemakaian masing-masing antara 50-100 Watt. Tak hanya itu, pembangkit itu dapat pula ditujukan bagi kepentingan penerangan jalan-jalan kampung.

Untuk kapasitas yang lebih besar, unit-unit pembangkit bisa disusun secara bertingkat di selokan guna pemenuhan listrik di kampung dengan jumlah kepala keluarga yang lebih banyak. Dijelaskan Syahrul, harga pembangkit itu pun relatif terjangkau.

Satu unitnya, pembangkit listrik tenaga air itu dihargai Rp 20 Juta. Kelebihan lain dari mesin pembangkit picohydro buatan LIPI itu adalah komponennya yang mudah diperoleh di pasaran. Dengan alasan itu pula, pihaknya berencana mengajarkan hasil penelitian itu kepada siswa STM agar pembangkit listrik skala kecil itu bisa diaplikasikan secara lebih luas.

Untuk saat ini, pihaknya mencoba menawarkan pembangkit listrik skala kecil buatannya itu kepada sejumlah pemerintah daerah. Terutama Pemda yang secara wilayah sulit dijangkau jaringan listrik konvensional.

( Setiady Dwi /CN12 )

sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/03/19/49653/Selokan-Bisa-Dipasangi-Pembangkit-Listrik-Picohydro

Kembangkan Tenaga Listrik Air Selokan

02 May 2010

BEGITU kita menginjakkan kaki saal berkunjung ke pesantren, yang pertama terlihat adalah pintu gerbang dengan tulisan besar nama pesantren. Serbeda dengan Pesantren Al Quran dan Teknologi Duriyat Mulia, di Kampung Tutugan, Desa Cisondari, Pasirjambu, Kabupaten Bandung, di depan pesantren tampak berdiri pembangkit tenaga listrik dengan air selokan. Pembangkit fistrik persis berada di depan musala itu memanfaatkan derasnya air selokan yang mengalir di depan pesantren. Air dinaikkan menggunakan pipa paralon ke bak penampung setinggi 3 meter, kemudian dijatuhkan lagi melalui pipa paralon untuk memutar turbin kecil pembangit listrik. Tenaga listrik yang dihasilkan cukup besar yakni 100 watt, dan dapat dibagi menjadi lima lampu 20 watt untuk menerangi jalan depan pesantren.

Pemanfaat sumber daya alam selokan ini tidak hanya.berman-faat bagi keluarga besar pesantren, tetapi masyarakat sekitarnya juga akan ikut merasakan keberadaan pesantren, dan masyarakat umum dapat belajar serta mencontoh teknologi tepat dari pesantren kami,” ujar Pudjo Rahardjo, pembina pesantren, lulusan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, saat ditemui Berita Kota.

Lelaki ramah Kelahiran Klaten, 10 Januari 1958 itu, mengungkapkan, pesantren yang berdiri sejak 1998 selain mengajarkan ilmu Al Quran juga teknologi yang langsung bisa diserap oleh warga desa. Orang desa harus transformasi ke bidang lain, tidakhanya menjadi petani.

Untuk pembuatan satu unit pembangkit listrik diperlukan biaya sekitar Rp 7 juta. Biaya itu tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh. Masyarakat selam dapat berhemat, juga membantu program pemerintah dalam program penghemat listrik

Respons warga desa dan masyarakat yang berkunjung ke pesantrennya sangat baik, terbukti banyak permintaan untuk dibuatkan teknologi tersebut. Untuk permintaan ini pihak pesantren membuka seluas-luasnya. Selam dikenai sebagai pembina pesantren, Pudjo Rahardjo juga dikenal sebagai peneliti Tanah dan Pemupukan di Pusat Penelitian Teh dan Kina, Gambung. Bandung. Melihat dari latar belakang keilmuannya memang berlainan dengan dunia pesantren yang dia geiuti saat ini, apalagi dia juga tercatat sebagai lulusan pascasarjana dari Massey University, New Zealand dan University ol Queensland, Australia.

Ketertarikan saya pada bidang agama justru diperoleh saat kuliah di luar negeh, makanya setelah pulang ke Tanah Air langsung terjun ke desa membangun pesantren yang berbasis Al Quran dan Teknologi,” jelas Pudjo, yang sangat antusias bila berbicara masalah pedesaan. Nama pesantrennya sendiri diambil dari nama orangtuanya, Duriyat.

Dia pun berharap, teknologi sumber daya alam air selokan inijuga dapat dimanfaatkan oleh seluruh penduduk Indonesia, terutama warga desa. Bisa dibayangkan apabila seluruh selokan yang berada di tanah Ini dimanfaatkan jadi sumber listrik, maka pemerintah dapat terbantu dan warga pun hemat biaya untuk listrik. Dia pun mengimbau kepada media massa, baik cetak maupun televisi untuk lebih menyebarkan kegiatan yang bersifat teknologi seperti ini. Karena pembangkit itu dinilai cocok untuk kawasandesa, terutama yang belum terjangkau jaringan listrik PLN Syarat utamanya adalah air harus terus mengalir dan deras.

Selain menerapkan di pesantren, Pudjo juga telah menerapkan pada sumber air yang berada di kantornya dekat pabrik teh Pembangkit listrik hasil idenya ini menghasilkan 100 nbu watt Untuk mengetahui lebih rina mengenai pesantren Al Quran dan Teknologi Duriyat Mulia dapat melihat di website www.duriyat.or.id. sa

sumber : http://bataviase.co.id/node/194249


Responses

  1. waahh keren yak bisa manfaatin air selokan jadi pembangkit listrik. baguslah setidaknya mereka tidak terlalu tergantung pada PLN..

  2. […] Air Selokan untuk Pembangkit Tenaga Listrik […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: