Oleh: excitonindo | Maret 25, 2010

Mengubah Gunung Sampah Bantar Gebang Menjadi Pembangkit Listrik

bagian 1

[ Rabu, 24 Maret 2010 ]
Menghapus Pelesetan Kota Bekasi sebagai ”Kota Bekas”

Belasan tahun tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Bantar Gebang, Bekasi, menjadi sumber masalah bagi warga sekitarnya. Kini teknologi mampu menyulap sumber masalah itu menjadi sumber energi listrik. Pekan lalu, Wakil Presiden Boediono sempat mencoba menyalakan generator yang digerakkan gas metan (CH4) yang bersumber dari sampah tersebut.

Don Kardono, Bekasi

WALI Kota Bekasi Mochtar Muhamad menuturkan, 12 tahun lalu, TPA itu laksana hutan belukar sampah. Pada musin hujan, TPA tersebut berubah menjadi comberan raksasa. Pada musim kemarau, ia menjadi sumber aroma tak sedap yang juga merusak pemandangan. ”Aroma tercium sampai radius 15 kilometer. Guyonan di sana, lalat dan tikus pun harus memakai masker,” ujarnya.

Konon, Bantar Gebang adalah TPA terbesar di Nusantara. Bukan hanya memunculkan aroma tidak sedap, air sampah yang disebut lindi pun mencemari sungai dan sumur warga.

Pemerintah dan warga Bekasi tidak bisa berbuat banyak. Lahan seluas 120 hektare di Bantar Gebang itu sudah dibeli Pemprov DKI (Daerah Khusus Ibukota) untuk dijadikan tempat sampah sejak awal 1990-an.

Sempat terjadi ketegangan dengan Gubernur Sutiyoso yang memimpin DKI waktu itu. ”Kami sudah kehilangan hak untuk mendapatkan udara bersih yang diisyaratkan dalam UU LH,” kenang Mochtar yang sebelumnya aktivis lingkungan tersebut.

Warga pun marah. Mereka memblokade Bantar Gebang untuk menghadang truk-truk sampah dari Jakarta. Bukan hanya memasang palang bambu dan kayu, warga juga merusak jalan beton. “Bahkan, ada truk-truk yang dibakar warga karena sudah tidak tahan lagi,” beber Mochtar.

Truk-truk sampah yang tidak bisa membongkar muatannya bertahan di tepi-tepi jalan. Suasana Bekasi pun menjadi tidak nyaman. Nama Kota Bekasi pun dipelesetkan menjadi ”Kota Bekas”.

Mochtar mencoba mencari solusi dengan menuntut kompensasi dari Pemprov DKI. ”Hasilnya baru 2009-2010, Pemprov DKI memberikan kompensasi Rp 36 miliar per tahun,” jelasnya.

Solusi lain muncul. Gundukan sampah tersebut menghasilkan gas metan yang diperlukan untuk menggerakkan generator listrik. Karena itu, dibuatlah proyek PLTSa (pembangkit listrik tenaga sampah).

Rencananya, PLTSa itu diresmikan 30 Maret mendatang. Direktur Utama PLN Dahlan Iskan sempat melihat langsung mesin-mesin pembangkit listrik tersebut dua pekan lalu.

Secara garis besar, ada empat tahapan untuk memanfaatkan timbunan sampah itu menjadi energi listrik. Pertama, menimbun sampah ke dalam lubang tanah seluas 20 X 100 meter persegi dengan kedalaman tertentu. Lantas, ditambahkan mikroba pengurai.

Langkah kedua, memasang selimut plastik hitam di timbunan sampah tersebut dengan tujuan agar gas yang daya rusaknya 21 kali CO2 itu tidak beterbangan dan merusak ozon. Ketiga, memasang pipa-pipa karet di tumpukan sampah tersebut untuk mengalirkan gas metan yang diproduksi timbunan sampah itu.

Keempat, gas tersebut dimasukkan ke dalam boks kondensasi untuk memisahkan gas metan dari air. Gas itulah yang kemudian dialirkan untuk menggerakan generator.

Proses produksi gas metan dari TPA Bantar Gebang tersebut dikerjakan PT Navigat Organic Energy Indonesia (PT Noei) Jakarta dengan teknologi General Electric (GE). Sementara, PLTSa itu menggunakan dua mesin yang masing-masing mampu menghasilkan listrik satu megawatt. (c3/ruk)

bagian 2
[ Kamis, 25 Maret 2010 ]
Ketebalan 20 Meter, Tak Perlu Khawatir Habis

PLTSa (pembangkit listrik tenaga sampah) bersumber pada gas metana hasil pengolahan sampah. Timbul kekhawatiran atas kelangsungan PLTSa jika sampah habis. Kekhawatiran itu sirna melihat tumpukan sampah di Bantar Gebang, Bekasi, yang lebih pas disebut gunungan.

Don Kardono, Bekasi

TUMPUKAN sampah di sebuah TPA (tempat pembuangan akhir) sampah lazimnya hanya 2-3 meter. Yang terjadi di Bantar Gebang, Bekasi, tidak bisa lagi disebut tumpukan karena tebalnya lebih dari 20 meter. Sisi positifnya, sampah sebanyak itu akan menjadi pemasok energi bagi PLTSa dalam jangka waktu yang lama.

Menyaksikan gunungan sampah di Bantar Gebang memang membuat segala benda di sekitarnya terlihat kecil. Bahkan, kendaraan-kendaraan berat seperti eksavator dan traktor tampak seperti mainan.

Pemerintah Provinsi DKI (daerah khusus ibu kota) Jakarta yang ”memiliki” TPA Bantar Gebang bukannya tidak menyadari kondisi overload di sana. Pemprov DKI bahkan sudah mulai melirik TPA Ciangir di Kabupaten Tangerang untuk sampah-sampah dari Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Kendalanya, belum ada kesepakatan dengan pemilik lokasi.

Overload yang terjadi di Bantar Gebang bukan saja terjadi karena besarnya volume sampah warga Jakarta yang dibuang ke sana. Sampah warga Bekasi juga lumayan besar. Perbandingannya, setiap hari sampah dari Bekasi sekitar 1.000 ton, sedangkan yang berasal dari Jakarta lipat empatnya.

Dulu, overload sampah itu menjadi masalah dan kekhawatiran. Kini, setelah ditemukannya teknologi PLTSa, kondisi tersebut justru menguntungkan karena menjadi pemasok energi yang dapat diandalkan.

Keuntungan lain, sampah di Bantar Gebang menjadi pemasok pabrik pupuk organik besar dengan kapasitas produksi 350 ton per hari. Potensinya bisa dinaikkan 1.000-2.000 ton per hari.

Ada dua industri yang sudah mulai mengelola sampah Bantar Gebang menjadi pupuk. Yaitu, PT Gondang Tua dengan kapasitas 300 ton per hari dan PT Mitra Patriot milik Perusda Bekasi berkapasitas 50 ton per hari.

Kendalanya, permintaan pupuk organik belum cukup besar. Padahal, pupuk jenis itu lebih ramah lingkungan, cocok untuk konservasi tanah, menghasilkan buah yang alami, dan tidak terkontaminasi kimiawi,” kata Wali Kota Bekasi Mochtar Muhammad.

Harganya juga relatif lebih murah jika dibandingkan dengan pupuk kimia. Per kilogramnya hanya Rp 1.250. Bentuknya juga sudah seperti urea, berupa grandul, kering, seperti makanan ikan koi tapi berwarna hitam. ”Sudah cukup modern. Tidak berbau lagi,” tambahnya.

Rendahnya permintaan itu, menurut dia, lebih disebabkan kurangnya sosialisasi Departemen Pertanian kepada petani. Petani kita masih lebih pede dengan urea, ZA, dll.

Padahal, harga jual tanaman organik bisa 100 persen lebih mahal. Dunia juga menghendaki perubahan dari anorganik menuju ke organik. ”Kalau petani kita sudah minded pupuk organik, industri ini bisa lebih maju karena banyak permintaan,” tandasnya.

Untuk mendukung pemanfaatan maksimal sampah di Bantar Gebang, Pemkot Bekasi sudah mengendalikan pengelolaannya dari hulu hingga hilir. Di tingkat penduduk, sudah dilakukan dengan pola pemilahan sampah organik dan anorganik.

Sampah rumah tangga sudah dipisahkan dengan kantong plastik yang berbeda. Di antara 900 rukun warga (RW), sudah ada 300 RW yang diberi bantuan mesin pencacah sampah organik dengan kapasitas dua ton per jam. ”Mesih tersebut diberikan secara cuma-cuma,” jelas Mochtar.

Tujuannya, mereka mengolah dulu sampahnya, lalu hasilnya dijual kepada Perusda Bekasi. Sampah kering dihargai Rp 400 per kilogram. Yang basah Rp 300 per kilogram. ”Truk-truk dinas kebersihan akan mengangkut ke TPA. Sedangkan yang organik langsung diproses ke pabrik pengolah kompos,” tuturnya.

Proyek lain yang sedang dalam pembahasan adalah pembangunan daur ulang plastik. Khusus sampah plastik dikumpulkan, lalu diolah kembali menjadi bijih-bijih plastik. ”Nanti bijih plastik itu diolah kembali menjadi bahan untuk plastik,” kata dia. (*/c4/ruk)

sumber : jawapos

Responses

  1. […] Mengubah Gunung Sampah Bantar Gebang menjadi pembangkit listrik […]

  2. […] Mengubah Gunung Sampah Bantar Gebang Menjadi Pembangkit Listrik March 2010 1 comment […]

  3. Saya sangat mendukung sekali Program ini, karena Saya berusaha dibidanfg Agrobisnis maka Saya akan menggunakan Pupuk dari Hasil Produksi TPST ini, Terima Kasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: