Rate of bleaching one of fastest seen

The Wildlife Conservation Society deployed marine biologists to Aceh province, on the tip of Sumatra island, in May, when surface waters in the Andaman Sea peaked at 93F (34C) – a 7F (4C) rise over long-term averages.

The teams discovered massive bleaching, which occurs when algae living inside coral tissues are expelled. Subsequent surveys carried out together with Australia’s James Cook University and Indonesia’s Syiah Kuala University showed 80 per cent of those corals have since died.

Though the scientists have yet to submit the data for publication in a peer-reviewed journal, they and others say the speed and extent of mortality appears to exceed that of other bleachings in recent history. The cause appears to be the warming seas, which to some degree can be blamed on global warming.

“This is a tragedy not only for some of the world’s most biodiverse coral reefs, but also for people in the region,” said Caleb McClennen, the New York-based group’s marine program manager for Indonesia, noting that many depend on the rich marine life for their food and money earned through tourism.

“It’s a disappointing development, particularly in light of the fact that these same corals proved resilient to other disruptions to this ecosystem,” Stuart Campbell of the Wildlife Conservation Society wrote on their website.

“It is an unfortunate reminder that international efforts to curb the causes and effects of climate change must be made if these sensitive ecosystems and the vulnerable human communities … that depend on them are to adapt and endure,” Campbell wrote.

source : http://www.telegraph.co.uk/earth/environment/7953936/Tsunami-coral-dying-due-to-temperature-rise.html

Iklan
Oleh: excitonindo | Juli 10, 2010

Astronot dari Indonesia

Kala itu, awal Februari 1986, terjadi peristiwa tragis dalam dunia antariksa. Wahana antariksa Challenger meledak di udara dan menewaskan 7 astronot. Peristiwa tersebut berdampak pada dibatalkannya pengiriman seorang ilmuwan asal Indonesia untuk menjadi astronot.

Prof. Dr Pratiwi Sudarmono PhD, SpMk sejatinya akan berangkat sebagai astronot dalam misi STS-61-H menggunakan wahana antariksa Columbia. Misi ini bertujuan untuk meluncurkan 3 satelit, salah satunya adalah satelit palapa B3. Namun, peristiwa meledaknya Challenger mengubah jalan cerita itu.

Beliau lahir pada tanggal 31 Juli 1952 di Bandung. Setelah menamatkan kuliah S1 bidang kedokteran di Universitas Indonesia pada tahun 1971, beliau melanjutkan pendidikan doktoralnya bidang molekular biologi di Osaka University.

Oleh: excitonindo | Juli 7, 2010

Air Selokan untuk Pembangkit Listrik

Liputan6.com, Yogyakarta: Tarif dasar listrik bagi pelanggan di atas 1.300  mulai naik per 1 Juli 2010. Namun ternyata hal itu tidak berpengaruh bagi warga Desa Sendangrejo, Minggir, Sleman, Yogyakarta. Sebab sejak lima tahun lalu warga setempat berhasil membuat pembangkit listrik tenaga mikro hidro.

Dengan memanfaatkan air selokan Van Der Wijck sepanjang satu kilometer, pembangkit listrik tenaga mikro hidro dapat diolah warga menjadi sumber daya energi alternatif. Pembangkit mikro hidro dengan daya mencapai sepuluh kwh ini telah mampu untuk menerangi balai desa dan tiga puluh rumah warga.

Cara kerja pembangkit listrik tenaga mikro hidro terbilang sederhana. Pertama air selokan ditampung dalam bak penenang lalu diolah ke bak turbin. Dari bak turbin kemudian dihubungkan ke generator menggunakan panel kontrol agar dapat menghasilkan listrik yang selanjutnya dialirkan ke rumah warga.

Baca Lanjutannya…

[ Selasa, 29 Juni 2010 ]

Tangan Dibakar, eh Malah Senyum-Senyum

Di antara stan di Jateng Fair 2010, pameran pintar yang diusung Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, tergolong paling diminati pengunjung. Ada apa di sana?

RICKY FITRIYANTO

REMAJA bernama Harun itu tak menunjukkan ekspresi kesakitan. Padahal, saat itu tangannya terbakar. Api dinyalakan ke tangan mungilnya yang sudah disemprot gas.

Tampaknya, Harun bahkan tak merasakan panas api tersebut. Dia terlihat senyum-senyum. Justru pengunjung yang sempat khawatir. Namun, begitu tahu tangan remaja itu tidak apa-apa, kekhawatiran tersebut berubah menjadi kelegaan sekaligus ketakjuban.

Adegan yang diperagakan Harun itu bukan aksi debus atau tenaga dalam. Harun baru saja menjadi model pada demonstrasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang dihelat Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP Iptek) Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta dalam arena Jateng Fair 2010, Minggu (27/6), di Kompleks PRPP, Semarang.

Tangan Harun tidak terbakar karena sebelumnya dilumuri sabun cair. Demo tersebut diperagakan untuk menunjukkan bahwa air sabun adalah konduktor yang buruk. Karena itu, panas api tidak sampai ke tangan.

Balai Sumbing, tempat PP Iptek memasang 60 alat peraga, memang menjadi salah satu favorit pengunjung Jateng Fair 2010. Menurut Manager Assistant of Program PP Iptek Muhammad Ichsan, selain demonstrasi iptek yang diadakan tiap hari, pengunjung bisa mencoba puluhan alat peraga yang dipasang. ”Kami membawa 60 di antara total 300 alat peraga di PP Iptek,” katanya.

Alat peraga yang bisa dicoba pengunjung, antara lain, flight simulation yang memungkinkan pengunjung mencoba jadi pilot dengan mengendalikan pesawat di layar. Ada juga gyroskop yang menunjukkan cara terbang helikopter.

Pengunjung juga bisa memegang roda sepeda dan meminta salah seorang teman memutarnya. Lalu, dia bisa berdiri di atas piring putar sambil memiringkan roda ke kiri dan ke kanan. ”Alat itu menunjukkan bahwa helikopter berbelok dengan cara memiringkan baling-baling ke kiri dan ke kanan,” ungkapnya.

Ada juga pompa air Archimedes. Alat itu menunjukkan bahwa daya dorong bisa membuat air mengalir ke permukaan yang lebih tinggi. Cermin sekongkol juga diminati pengunjung. Alat itu menunjukkan bayangan yang dihasilkan cermin cembung dan cekung.

Ichsan menuturkan, alat-alat peraga yang diperlihatkan dalam Jateng Fair itu menunjukkan prinsip sederhana dalam matematika, fisika, dan elektronika. ”Kami mengajak pengunjung belajar iptek secara fun. Dengan visualisasi, iptek akan lebih mudah dipelajari daripada hanya dari buku. Yang lebih penting, belajar jadi menyenangkan,” paparnya.

Belajar iptek, termasuk matematika dan fisika, semestinya memang menyenangkan. Salah siapa bila banyak siswa yang tegang menghadapi dua mata pelajaran tersebut? (isk/jpnn/c5/soe)

sumber : http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=142362

Oleh: excitonindo | Juni 7, 2010

Sistem Peringatan Dini Penyakit Berbasis Berita

Jumat, 04 Juni 2010
Mengantisipasi penyebaran penyakit dalam waktu singkat dapat dilakukan dengan menerapkan sistem peringatan dini. Sistem itu bekerja dengan memanfaatkan basis data dari berbagai situs di Internet.

Penyakit menular merupakan salah satu jenis penyakit yang kerap menjadi momok bagi masyarakat.

Tidak jarang pula wabah tersebut memakan korban jiwa dalam jumlah besar. Apabila kondisinya telah mencapai taraf tersebut, biasanya pemerintah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB).

Hal itu tentu akan sangat meresahkan masyarakat.

Salah satu contoh kasus KLB yang pernah terjadi ialah penyebaran wabah flu burung di beberapa negara di dunia.

Penyakit yang ditularkan melalui unggas itu telah menyebabkan ratusan orang meninggal dunia.

Di Indonesia, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, selama periode 2003 hingga 2008 jumlah korban yang meninggal dunia akibat flu burung mencapai 107 orang.

“Indonesia menurut jurnal Nature merupakan salah satu hotspot dunia flu burung.

Penyebarannya sangat luas dan kerap penyakit itu menimbulkan banyak korban jiwa,” ujar Anto Satriyo Nugroho, peneliti dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Selain penyakit flu burung, penyakit menular yang pernah menjadi wabah dan menyebabkan kematian ialah demam berdarah.

Penyakit itu disebabkan oleh virus dari famili Flaviviridae, genus Flavivirus, dan menyebar melalui perantara nyamuk Aedes aegypti.

Untuk mengatasi penyebaran pe nyakit-penyakit menular tersebut, beberapa langkah antisipasi mesti ditempuh.

Upaya pencegahan flu burung, misalnya, bisa dilakukan dengan cara mengendalikan penyakit pada hewan, penatalaksanaan kasus-kasus pada manusia, perlindungan pada kelompok berisiko tinggi, menjalankan komunikasi risiko, melakukan edukasi, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat.

Selain itu, perlu dilakukan penguatan dukungan peraturan dan penelitian kajian, pemonitoran, dan evaluasi terhadap penyakit menular semacam itu.

Pasalnya, penyakit menular dengan media perantara hewan itu apabila dibiar kan dapat berkembang dan menular dari manusia ke manusia.

Penyakit flu burung jika dibiarkan bisa mengakibatkan pandemi influenza yang sangat mengerikan.

Baca Lanjutannya…

Oleh: excitonindo | April 22, 2010

Oki Novendra Raih Medali Emas berkat Michael Jackson

[ Kamis, 22 April 2010 ]

Hitung Dosis Obat dengan Rumus Matematika

Kematian Michael Jackson pada 25 Juni tahun lalu menginspirasi Oki Novendra, siswa SMAN 1 Bogor, untuk menciptakan karya ilmiah di bidang biomath. Berkat penelitian tentang dosis obat, dia meraih medali emas International Conference of Young Scientists (ICYS) di Bali pada 17 April lalu.

NUNGKI KARTIKASARI, Bogor

KEMENANGAN Oki itu akan dirayakan di panggung peringatan Hari Kartini di sekolahnya hari ini (22/4). Di acara tersebut Oki tidak hanya tampil dengan membawa medali emas tersebut. Dia juga bakal manggung bersama Anonim Band, band sekolahnya. “Sekolah meminta saya untuk menyanyikan lagu Michael Jackson,” ungkap Oki.

Vokalis sekaligus gitaris Anonim Band tersebut menyatakan menjadi penggemar berat King of Pop itu sejak duduk di bangku SD. Berbagai koleksi poster, kaset, dan CD lagu-lagu Jacko -panggilan Michael Jackson- menghiasi kamarnya. Karena itu, ketika ada kompetisi karya ilmiah remaja ICYS, dia tergerak untuk mengikutinya lewat tema yang terkait dengan kematian sang artis idola tersebut.

Yang menarik, Oki mengaitkan penelitian itu dengan penghitungan matematika, bidang pelajaran kegemarannya. Selama tiga bulan, dia mengerjakan penelitian tentang dosis salah satu obat yang diminum Jacko sebelum meninggal. Yakni, Demerol sebagai obat penghilang rasa sakit. “Menurut informasi yang saya dapat di internet, Jacko mengonsumsi Demerol empat jam sekali,” ujar remaja kelahiran Kyoto, Jepang, tersebut.

Hampir setiap malam dia mengutak-atik rumus matematika yang digunakan untuk mengukur dosis obat itu sambil mendengarkan lagu-lagu Jacko.

“Saya merasa lebih nyaman jika belajar sambil mendengarkan lagu-lagu Jacko,” ujar alumnus SDN Polici 4, Bogor, tersebut.

Dalam penelitian itu, anak tunggal pasangan Hendrayanto dan Noviatri tersebut meneliti dosis obat itu dengan pendekatan rumus diferensial alias turunan. “Itu rumus dasar yang mudah diingat dan paling sering diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Oki percaya bahwa Jacko meninggal karena serangan jantung sebelum berangkat untuk konser. Alumnus SMPN 1 Bogor tersebut kemudian menghitung dosis Demerol dengan selang waktu konsumsi yang diterapkan oleh Jacko. “Setiap hendak konser, Jacko selalu minum Demerol lebih dulu,” papar dia.

Menurut Oki, diduga Jacko mengonsumsi Demerol berlebihan saat akan tampil. “Ketika dia minum melebihi dosis dan tubuhnya tak sanggup menerimanya, fatal akibatnya,” tambah dia. Bila diminum sesuai dengan dosis yang dianjurkan oleh dokter, papar Oki, Demerol tidak mengakibatkan efek samping. Dampaknya berbeda jika dosis obat itu ditambah tanpa sepengetahuan dokter karena Jacko ingin konser tersebut terlihat lebih menarik.

“Akibatnya kematian. Sebab, ilmu pastinya menunjukkan bahwa endapan dalam tubuh bisa mengakibatkan kematian,” tegas penghobi basket itu.

Rumus tersebut, jelas dia, tak hanya berlaku pada obat yang dikonsumsi Jacko. Menurut dia, semua jenis obat dengan dosis dan jangka waktu konsumsi tertentu bisa dihitung dengan rumus yang sama. “Jika konsentrasi endapan Demerol lebih dari 1,54 miligram, sudah bisa dinyatakan overdosis,” paparnya.

Rumus tersebut, lanjut dia, dapat pula dihitung dengan mengetahui persentase dosis yang masuk ke dalam darah dan selang waktu konsumsi obat. Untuk itu, Oki perlu mengetahui daftar obat terlebih dahulu. “Sebab, setiap obat memiliki persentase dan waktu yang berbeda,” jelasnya.

Dia berharap, ada adik kelas yang mau menyempurnakan penelitian tersebut. Sebab, saat ini Oki belum berencana melengkapi penelitian itu dengan aspek biologi dan kimia. “Berhubungan dengan banyak aspek. Sementara itu, saya hanya berkonsentrasi pada rumus saya dulu,” terangnya. (*c11//ari)

sumber : http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=129814

Oleh: excitonindo | Maret 29, 2010

RI, US sign science, technology cooperation deal

The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Mon, 03/29/2010 8:30 PM  |  National

Indonesia and the United States signed on Monday a cooperation agreement in the fields of science and technology, paving the way for an exchange of information, ideas, knowledge and skills between scientists of the two countries.

Under the cooperation agreement, all Indonesian scientists will be able to continue existing cooperation and embark on new cooperation with their US counterparts, Indonesian Minister of Research and Technology Suharna Surapranata was quoted by Antara after signing the agreement with US Ambassador to Indonesia Cameron Hume.

The deal covers 23 fields, including science and technology, agriculture and biotechnology, medical and biomedical sciences, food security, marine research, energy, information and communication technology, aerospace, environment, forestry and biodiversity.

Suharna underlined that the agreement was based on the principles of equality and was aimed at supporting the development of national science and technology.

Indonesia and the US began their science and technology cooperation in 1978 and extended the cooperation until 2002, he said.

It was not until 2008 the two countries realized the importance of renewing the cooperation, he said.

Ambassador Hume said the US hoped the cooperation to help Indonesia grow as its strong partner.

source : http://www.thejakartapost.com/news/2010/03/29/ri-us-sign-science-technology-cooperation-deal.html

bagian 1

[ Rabu, 24 Maret 2010 ]
Menghapus Pelesetan Kota Bekasi sebagai ”Kota Bekas”

Belasan tahun tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Bantar Gebang, Bekasi, menjadi sumber masalah bagi warga sekitarnya. Kini teknologi mampu menyulap sumber masalah itu menjadi sumber energi listrik. Pekan lalu, Wakil Presiden Boediono sempat mencoba menyalakan generator yang digerakkan gas metan (CH4) yang bersumber dari sampah tersebut.

Don Kardono, Bekasi

WALI Kota Bekasi Mochtar Muhamad menuturkan, 12 tahun lalu, TPA itu laksana hutan belukar sampah. Pada musin hujan, TPA tersebut berubah menjadi comberan raksasa. Pada musim kemarau, ia menjadi sumber aroma tak sedap yang juga merusak pemandangan. ”Aroma tercium sampai radius 15 kilometer. Guyonan di sana, lalat dan tikus pun harus memakai masker,” ujarnya.

Konon, Bantar Gebang adalah TPA terbesar di Nusantara. Bukan hanya memunculkan aroma tidak sedap, air sampah yang disebut lindi pun mencemari sungai dan sumur warga.

Baca Lanjutannya…

[ Rabu, 24 Maret 2010 ]

PONTIANAK – Kemarin (23/3) matahari melintas persis di garis khatulistiwa. Di Pontianak, yang dilintasi garis pembagi bola dunia itu, dikenal istilah titik kulminasi yang dirayakan setiap tahun saat matahari tepat berada di atas kota itu.

Ada yang berbeda dalam perayaan titik kulminasi kemarin. Sebuah alat yang disebut deteksi kulminasi dipasang untuk membuktikan bahwa matahari benar-benar tengah melintas persis di atas Kota Pontianak. Alat tersebut adalah temuan tim SMK Negeri 6 Pontianak.

Berdasar perhitungan astronomis, matahari persis di atas Kota Pontianak pada pukul 11.51 WIT. Sejak pukul 10.00 persiapan dilakukan di Tugu Khatulistiwa di pinggir Sungai Kapuas.

Guru teknik mesin SMKN 6 Pontianak Jemaah selesai memasang alat deteksi berupa tiang hitam setinggi dua meter. Wajahnya terlihat sedikit gundah karena awan hitam menyelimuti langit Pontianak. Jika terus begitu, alat deteksi kulminasi yang dirancang bisa jadi sia-sia. “Kalau mendung, alatnya tidak bisa bekerja,” tuturnya.

Baca Lanjutannya…

Kamis, 11 Februari 2010 , 16:17:00

JAKARTA, (PRLM).-Sepuluh guru bidang studi sains atau Ilmu Pengatahuan Alam meraih penghargaan Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) tahun 2010, termasuk di antaranya adalah Lilis Komariah (46), guru Fisika di SMA Negeri 21 Bandung. Lilis menjadi satu-satunya guru sekolah menengah atas asal Provinsi Jawa Barat yang meraih penghargaan untuk kategori pendidikan sains itu.

Presentasi penghargaan pendidikan sains, penghargaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), dan hibah penelitian iptek berlangsung di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (11/2).
Hadir antara lain Menristek Suharna Surapranata, Ketua ITSF Soefjan Tsauri, dan Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kojiro Shiojiri.

Lilis menampilkan penelitian yang berjudul “Kolaborasi Power Point dalam Pembelajaran Berkelompok dengan Penerapan Hot Potatoes sebagai Alat Ukur Keberhasilan Siswa dalam Pemahaman Konsep Termodinamika di Kelas XI IPA SMAN 21 Bandung”.

Jumlah pelamar untuk penghargaan kali ini sebanyak 119, dan komite seleksi memilih 10 guru sains terbaik.

Sembilan orang lainnya adalah  Anis Farida (guru Fisika di SMAN 1 Bantur Malang Jawa Timur), Budi Santosa (guru Kimia di SMAN 1 Dusun Tengah Kalimantan Tengah), Mujahidin Agus (guru Fisika di SMAN 1 Unggulan Kamanre Luwu Sulawesi Selatan), Munis Darmawan (guru Kimia di SMAN 1 Pulung Ponorogo Jawa Timur, Newyenu Watneka Romuti (guru Kimia di SMAN 1 Ambon), Salmiyati (guru Biologi di SMAN 1 Pangkalan Krinci Riau, Siti Hidayati (guru Biologi di SMAN 1 Purwareja Klampok Jawa Tengah, Widianto (guru Biologi di SMAN 1 Rembang Jawa Tengah, dan Wiji Astutik (guru Biologi di Madrasah Aliyah Al-Hidayat Pasuruan Jawa Timur).

Selain Lilis, dua peneliti muda masing-masing Dr. Eng. Yessi Permana (Institut Teknologi Bandung) dan Dr. Lusi Safriani (Universitas Padjadjaran) menjadi pemenang penghargaan ITSF (Science and Technology Research Grant), mendapat hibah. Jumlah peraih hibah ini sebanyak 19 peneliti dari berbagai universitas dan lembaga penelitian di Indonesia dengan total nilai Rp 693 juta.

Yessi mengajukan  penelitian bertajuk “Polimerisasi Bahan Alam Terperbaharui Menggunakan Logam Kompleks”. Sedangkan, Lusi mengajukan penelitian bertajuk “Fabrikasi Kristal Fotonik dan Bahan Partikel Polistiren Monodispersed untuk Aplikasi Tunable Laser”.(A-94/kur)***

sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=127167

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori