Oleh: excitonindo | Juni 7, 2010

Sistem Peringatan Dini Penyakit Berbasis Berita

Jumat, 04 Juni 2010
Mengantisipasi penyebaran penyakit dalam waktu singkat dapat dilakukan dengan menerapkan sistem peringatan dini. Sistem itu bekerja dengan memanfaatkan basis data dari berbagai situs di Internet.

Penyakit menular merupakan salah satu jenis penyakit yang kerap menjadi momok bagi masyarakat.

Tidak jarang pula wabah tersebut memakan korban jiwa dalam jumlah besar. Apabila kondisinya telah mencapai taraf tersebut, biasanya pemerintah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB).

Hal itu tentu akan sangat meresahkan masyarakat.

Salah satu contoh kasus KLB yang pernah terjadi ialah penyebaran wabah flu burung di beberapa negara di dunia.

Penyakit yang ditularkan melalui unggas itu telah menyebabkan ratusan orang meninggal dunia.

Di Indonesia, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, selama periode 2003 hingga 2008 jumlah korban yang meninggal dunia akibat flu burung mencapai 107 orang.

“Indonesia menurut jurnal Nature merupakan salah satu hotspot dunia flu burung.

Penyebarannya sangat luas dan kerap penyakit itu menimbulkan banyak korban jiwa,” ujar Anto Satriyo Nugroho, peneliti dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Selain penyakit flu burung, penyakit menular yang pernah menjadi wabah dan menyebabkan kematian ialah demam berdarah.

Penyakit itu disebabkan oleh virus dari famili Flaviviridae, genus Flavivirus, dan menyebar melalui perantara nyamuk Aedes aegypti.

Untuk mengatasi penyebaran pe nyakit-penyakit menular tersebut, beberapa langkah antisipasi mesti ditempuh.

Upaya pencegahan flu burung, misalnya, bisa dilakukan dengan cara mengendalikan penyakit pada hewan, penatalaksanaan kasus-kasus pada manusia, perlindungan pada kelompok berisiko tinggi, menjalankan komunikasi risiko, melakukan edukasi, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat.

Selain itu, perlu dilakukan penguatan dukungan peraturan dan penelitian kajian, pemonitoran, dan evaluasi terhadap penyakit menular semacam itu.

Pasalnya, penyakit menular dengan media perantara hewan itu apabila dibiar kan dapat berkembang dan menular dari manusia ke manusia.

Penyakit flu burung jika dibiarkan bisa mengakibatkan pandemi influenza yang sangat mengerikan.

Oleh karena itu, sebagai langkah awal antisipasi penyebaran penyakit menular, diperlukan ketersediaan informasi akan adanya wabah dan penyebaran penyakit sedari dini.

Informasi itu bisa membantu pihak-pihak yang memiliki otoritas serta masyarakat bertindak cepat dalam mengantisipasi kondisi yang lebi parah.

“Tujuannya, sebagai early warning system (sistem peringatan dini),” katanya.

Sistem informasi memang merupakan kunci untuk menentukan atau memperkirakan besaran masalah dan luasnya daerah penyebaran.

Dari data-data tersebut, maka tindakan pencegahan dan pengobatan penyakit pun bisa diproyeksikan sejak awal.

Sayangnya, informasi awal itu sering kali tidak dimiliki oleh Kementerian Kesehatan atau Dinas Kesehatan.

Institusi-institusi pemerintah itu hanya mengetahui informasi yang berkaitan dengan penyebaran penyakit melalui pemberitaan media.

Lokasi serta jumlah penderitanya pun kerap tidak bisa diketahui dalam waktu singkat.

Padahal, penyakit menyebar begitu cepat dan membutuhkan penanganan yang juga cepat.

Anto mengatakan untuk mengatasi hambatan tersebut, informasi awal sebagai peringatan dini dapat diperoleh melalui berita di Internet dan mengolahnya dengan perangkat lunak Sistem Analisa Spatio Temporal Penyebaran Penyakit Menular (SASTPPM).

Dwi Handoko, Kepala Bidang Sistem Informasi dan Komputasi BPPT, menambahkan SASTTPM akan menyajikan informasi dengan mengolah data yang diunduh dari Internet.

Data kemudian disajikan dalam bentuk visualisasi angka dan peta penyebaran penyakit per kabupaten dalam waktu tertentu.

Sebagai contoh, pada 2006, di Kota Bandung, Jawa Barat, ditemukan 11 kasus flu burung.

Dari 11 kasus itu diketahui 5 orang meninggal dan 6 orang berhasil terselamatkan.

Dalam SASTTPM, selain data mengenai jumlah penderita, ditampilkan pula peta lokasi Kota Bandung.

Bukan hanya itu, grafik yang terpampang bisa menunjukkan kategori kejadian, apakah tinggi atau rendah.

Grafik berwarna merah mengindikasikan kasus yang terjadi termasuk ke dalam kategori tinggi, mencapai lebih dari 6 kasus.

Sementara itu, grafik yang berwarna kuning menunjukkan bahwa kasus tergolong ke dalam kategori rendah, baru mencapai 1 sampai 2 kasus.

Mengunduh dari Internet

Secara sederhana, SASTTPM ter diri dari mesin pencari web untuk mengunduh informasi dari Internet dan memasukkannya ke dalam data base.

Date base itu akan me lakukan pencarian secara off line.

Text mining dengan teknologi natural language processing (NLP) berbahasa Indonesia dipakai untuk mengekstrak informasi spatio temporal, menganalisis, dan memvisualisasi.

Untuk mendapatkan data, hal pertama yang harus dilakukan pengguna ialah menjalankan teknik crawling, yaitu mengumpulkan data dan menyimpannya dengan menggunakan perangkat lunak open source Nutch.

Perangkat lunak berbasis Java itu merupakan mesin pencari web, seperti hal Google yang bebas dipakai siapa saja.

Nutch dilengkapi dengan fungsi spesifik web, seperti crawler, data base link-graph, serta parser untuk HTML dan format dokumen lainnya, seperti JavaScript, MS Excel, PowerPoint, Word, Open Office, Adobe PDF, dan Shockwave Flash untuk memudahkan pengunduhan data.

Dengan menulis corpus objek “demam berdarah” pada layar penelusuran Nutch, maka akan ditampilkan sekitar 337 ribu artikel.

Situs-situs itu lalu diunduh dan dimasukkan ke dalam data base.

Lantaran menyimpan banyak situs, server yang dipakai harus memiliki kapasitas besar.

Selain menampilkan clue berdasarkan objek, sistem itu juga bisa menyajikan peta daerah dan waktu.

Pengguna tinggal mengetik corpus nama kabupaten serta tanggal, bulan, dan tahun.

Setelah data terkumpul dalam data base, langkah selanjutnya ialah menjalankan teknik searching.

Text mining dengan NLP berbahasa Indonesia akan meng ekstrak informasi spatio temporal penyebaran penyakit, menganalisisnya, dan memvisualisasikannya.

Fungsi lain dari text mining ialah mengategorisasikan teks dan mengelompokkan teks. Dengan adanya teknik searching tersebut, maka sistem hanya akan mencari informasi yang diperlukan dari tumpukan data yang ada.

“Untuk sementara ini perangkat akan memilih berdasarkan datadata yang diberitakan oleh media harian nasional saja.

Pengembangan ke depan akan mengikutsertakan berita-berita dari harian lokal yang juga sudah memiliki situs di Internet,” jelas Dwi.

Proses selanjutnya, data hasil ekstraksi ditampilkan dalam bentuk graphic user interface (GUI) agar mudah dipahami banyak orang.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, visualisasi akan menampilkan tabel, grafik, dan peta Indonesia yang diperoleh dari sistem informasi geografi.

Alhasil, tampilan pun berisikan informasi yang lengkap, meliputi waktu kejadian, lokasi, serta kuantitas penyakit.
hay/L-2

sumber : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=53780


Responses

  1. salam kenal… blognya keren artikelnya juga..

    di tunggu kunjungan baliknya..

    terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: