Oleh: excitonindo | Maret 24, 2010

Alat Deteksi Kulminasi Buktikan Garis Ekuator di Pontianak

[ Rabu, 24 Maret 2010 ]

PONTIANAK – Kemarin (23/3) matahari melintas persis di garis khatulistiwa. Di Pontianak, yang dilintasi garis pembagi bola dunia itu, dikenal istilah titik kulminasi yang dirayakan setiap tahun saat matahari tepat berada di atas kota itu.

Ada yang berbeda dalam perayaan titik kulminasi kemarin. Sebuah alat yang disebut deteksi kulminasi dipasang untuk membuktikan bahwa matahari benar-benar tengah melintas persis di atas Kota Pontianak. Alat tersebut adalah temuan tim SMK Negeri 6 Pontianak.

Berdasar perhitungan astronomis, matahari persis di atas Kota Pontianak pada pukul 11.51 WIT. Sejak pukul 10.00 persiapan dilakukan di Tugu Khatulistiwa di pinggir Sungai Kapuas.

Guru teknik mesin SMKN 6 Pontianak Jemaah selesai memasang alat deteksi berupa tiang hitam setinggi dua meter. Wajahnya terlihat sedikit gundah karena awan hitam menyelimuti langit Pontianak. Jika terus begitu, alat deteksi kulminasi yang dirancang bisa jadi sia-sia. “Kalau mendung, alatnya tidak bisa bekerja,” tuturnya.

Jemaah menjelaskan, alat tersebut dikembangkannya bersama guru dan siswa dari jurusan lain. Ada Ahmad Mahmudi yang merupakan guru kriya tekstil. Ada juga Indra, siswa jurusan kayu. Kemarin hanya Jemaah dan Mahmudi yang menyaksikan uji coba alat tersebut. Indra sedang mengikuti ujian nasional.

Alat itu, menurut Jemaah, diciptakan atas permintaan Pemerintah Kota Pontianak. Pemkot ingin memberi suasana yang berbeda dalam pembuktikan titik kulminasi.

Selama ini pembuktikan titik kulminasi hanya didasarkan pada tonggak kayu. Saat matahari persis berada di atas Kota Pontianak, tonggak kayu itu tidak memiliki bayangan sama sekali.

Deteksi kulminasi tersebut berupa pipa galvanis sepanjang dua meter. Di bawah pipa itu ada lensa bikonveks atau lensa cembung. Ketika matahari persis berada di atas Kota Pontianak yang juga berarti persis berada di atas pipa tersebut, cahayanya fokus pada lensa di ujung bawah pipa. Cahaya yang terfokus pada satu titik mampu membakar korek api dan petasan yang disusun di bawahnya.

Pukul 11.45 langit terlihat lebih cerah. Jemaah tetap setia menunggu di samping alatnya. Pada pukul 11.50 pemandu acara mengumumkan titik kulminasi telah tiba. Meriam pun berdentum tiga kali.

Tamu-tamu mulai meninggalkan tribun kayu yang dibangun di depan alat deteksi kulminasi itu. Beberapa wisatawan asing dan sejumlah masyarakat tetap setia berada di dekat alat tersebut. Pukul 11.55 petasan meledak. Jemaah berlari dan meloncat sambil mengacungkan jempolnya. Dia memeluk teman satu timnya. “Alhamdulillah, berhasil,” teriaknya. (jpnn/c13/ruk)

sumber : jawapos


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: