Oleh: excitonindo | November 18, 2009

Nur Fadilah, Pemberantas Buta Aksara

Rabu, 18 November 2009 | 03:37 WIB

Runik Sri Astuti

Ketika mendengar Kota Kediri, Jawa Timur, menyatakan diri bebas buta aksara, Nur Fadilah merasa sedih. Terbayang di benaknya wajah-wajah warga di kampungnya, Desa Lebak Tumpang, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, yang belum mengenal aksara Latin dan angka, harus menelan kekecewaan karena tidak lagi diakui keberadaannya.

Kesempatan mereka untuk belajar menjadi tertutup seiring mandeknya kucuran dana dari pemerintah yang selama ini menyokong aktivitas di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), wadah bernaung murid-murid program pendidikan kesetaraan dan keaksaraan fungsional.

Nur Fadilah merasa dihadapkan pada sebuah dilema. Di satu sisi ia bangga karena kota kelahirannya, Kediri, berhasil menyandang predikat bebas buta aksara. Namun, di sisi lain ia prihatin karena predikat bebas buta aksara itu tidak lebih dari kepentingan politis. Faktanya, program pemberantasan buta aksara belum tuntas.

”Murid-murid saya adalah realitas yang tidak terbantahkan. Di Dusun Lebak saja ada 70 warga yang buta huruf dalam satu rukun tetangga (RT). Di Dusun Tumpang apalagi, jumlahnya mencapai ratusan orang. Apa jadinya mereka kalau program pemberantasan buta aksara dihentikan,” ungkap ibu tiga anak ini.

Kendati tidak mendapat pengakuan, semangatnya pantang mundur. Dia semakin giat memotivasi tetangganya untuk pergi ke PKBM Hidayatul Mubtadiin yang didirikannya.

PKBM Hidayatul Mubtadiin berdiri tahun 2004. Ada beberapa jenjang pendidikan yang diselenggarakan, yakni taman bacaan, taman kanak-kanak, pendidikan kesetaraan (Kejar Paket A, B, dan C), serta pendidikan keaksaraan fungsional.

Sebelum mendirikan PKBM, Nur Fadilah yang menjadi guru tidak tetap di SDN Lebak Tumpang telah mengajar untuk warga buta aksara di sekitarnya. Ia ”bergerilya” dari satu rumah warga ke rumah warga lainnya.

Dia terkejut karena mayoritas warga di sekitarnya buta aksara Latin dan angka. Umumnya warga lelaki bekerja sebagai buruh kasar, sementara kaum perempuannya menjadi pemecah batu kali di tepi Sungai Brantas.

”Waktu itu saya menemukan 100 orang lebih (buta aksara) sehingga kewalahan jika mengajar seorang diri dari rumah ke rumah. Saya melaporkan temuan tersebut kepada dinas pendidikan,” katanya.

Atas saran dari Dinas Pendidikan Kota Kediri, Nur, panggilannya, mendirikan PKBM dan diberi nama Hidayatul Mubtadiin. Awalnya ia tetap berkeliling mendatangi murid-muridnya. Tak hanya di rumah, tetapi ia juga mendatangi tepian sungai tempat para muridnya bekerja.

”Di mana ada kesempatan di situ kami belajar. Capek memecah batu, mereka beristirahat, ya sambil belajar. Kalau mengandalkan belajar harus di kelas, tak akan pintar-pintar,” ujarnya.

Malam hari

Seiring bertambahnya jumlah murid, Nur lalu merekrut sukarelawan sebagai tutor PKBM. Sedikitnya ada empat tutor yang bergabung. Mereka rela mengajar tanpa dibayar.

Kegiatan PKBM diadakan malam hari, di ruang kelas sebuah sekolah milik yayasan swasta. Waktu dipilih malam hari agar tak berbenturan dengan kegiatan belajar reguler sekolah itu. Masalah waktu bagi para murid PKBM yang harus bekerja pada siang hari juga teratasi.

Namun, masalah lain muncul. Para murid yang umumnya bapak-bapak dan ibu rumah tangga itu enggan masuk sekolah. Mereka beralasan lelah setelah seharian bekerja. Sebagian lagi mengaku sakit mata sehingga sulit membaca buku. Ada juga yang terus terang menyatakan bosan.

Untuk mengatasinya, istri Sukardi ini memutar otak. Awalnya, ia mengundang tukang kacamata ke desanya. Para murid dijanjikan diperiksa mata gratis apabila mau datang ke sekolah. Mereka juga akan mendapatkan kacamata gratis.

Sebagian besar murid meminta kacamata untuk membaca karena pandangannya kabur dimakan usia. Nur bekerja sama dengan penjual kacamata keliling yang menjual kacamata baca seharga Rp 10.000.

”Tak perlu mahal, apalagi berstandar optik. Yang penting murid-murid senang dan tidak punya alasan lagi buat bolos sekolah karena sakit mata,” ujarnya tersenyum.

Keterampilan memasak

Untuk meningkatkan pengetahuan para murid, Nur juga memberikan pelatihan keterampilan memasak. Bahkan, untuk menarik murid agar datang ke sekolah, ia pun menonjolkan kegiatan keterampilannya daripada belajar membaca dan menulis.

Hati Nur berbunga saat melihat murid-muridnya kembali semangat masuk sekolah. Namun, kesenangan itu tak berlangsung lama. Ia mulai kehabisan ”amunisi” untuk membiayai praktik memasak. Sebagai guru tidak tetap, penghasilannya tidak lebih dari Rp 200.000 per bulan. Itu pun harus dipotong biaya transportasi dari rumah ke tempat dia mengajar. Penghasilan suaminya sebagai pegawai negeri sipil habis untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan ketiga anaknya.

Nur lalu membuat kegiatan yang menghasilkan uang tambahan. Caranya, dia menghimpun para ibu untuk membuat geplak jahe (sejenis manisan) dan minuman sari kencur. Produk yang dihasilkan itu dipasarkan dan uangnya bisa diputar untuk modal usaha.

Namun, masalah yang dihadapi Nur belum tuntas. Dia harus mulai memikirkan kelanjutan para tutor yang juga membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan mereka.

”Kami punya empat tutor. Kalau mereka bekerja terus-terusan tanpa digaji, kasihan juga. Sementara menarik uang dari murid tidak mungkin. Mereka mau masuk sekolah saja sudah syukur,” ujarnya.

Untuk membiayai tutor, Nur memilih budidaya jamur tiram. Alasannya, modal usaha yang diperlukan tidak terlalu besar, sekitar Rp 2 juta per kelompok.

Selain melibatkan murid-muridnya, Nur juga menggandeng kelompok ibu-ibu tim penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Maka terhimpun sedikitnya enam kelompok budidaya jamur, dengan setiap kelompok memiliki anggota 4-6 orang. Dari enam kelompok itu, empat di antaranya aktif. Adapun dua kelompok lainnya mati suri akibat kurangnya komunikasi, kerja sama, dan ketekunan dalam berusaha. Selain itu, modalnya sangat cekak sehingga sulit bernapas jika ada anggota yang ngebon dulu.

Perlahan tapi pasti, ketergantungan pada utang mulai terkurangi. Penghasilan tambahan dari budidaya jamur mampu menambal kebutuhan hidup mereka, walaupun sedikit demi sedikit. Masyarakat pun mulai tergerak untuk bekerja dan hidup mandiri.

sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/18/03372915/nur.fadilah.pemberantas.buta.aksara.


Responses

  1. Luar biasa!
    Salut buat Ibu Nur Fadilah.
    Harusnya Diknas malu dengan -dan mau belajar dari- sosok-sosok seperti Ibu Nur ini.

    Ihsan

    terima kasih ihsan atas komentarnya. Pemerintah memang harus lebih banyak belajar dari rakyatnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: