Tidak dapat dipungkiri, isu energi telah menjadi isu yang paling populer dalm perbincangan tingkat kampung sampai kampanye calon Presiden. Selama pulang kampung, kampung saya mengalami 2 kali pemadaman bergilir. Harga minyak dunia pun sudah semakin tinggi. Di saat kita masih memperdebatkan pembangkit listrik tenaga nuklir, muncul ide ide tentang energi alternatif, salah satunya yang cukup menghebohkan istana.
Hendaknya kita perlu kembali ke energi yang cukup melimpah di bumi, yaitu energi surya. Memang sudah sejak lama energi surya ini menjadi bahan riset di kalangan peneliti dan sel surya pun sudah diproduksi massal. Pada pertemuan fisikawan Amerika di Bulan Maret 2008 pun, sel surya masih hangat dibicarakan. Penggunaan listrik berbahan bakar surya megalami kenaikan 40% per tahun selama 5 tahun terakhir. Meskipun harga sel surya masih mahal dibandingkan listrik berbahan bakar batu bara. Tetapi dengan adanya produksi massal, maka perbedaan harga tersebut makin lama akan semakin tipis.
Fisikawan berlomba lomba untuk membuat sel surya menjadi lebih efisien dan lebih murah untuk diproduksi. Salah satunya dengan memakai bahan silicon nanocrystallites menggantikan single-crystal silicon configurations. Cara yang lain yaitu dengan memakai sel dari dye-sensitized paint component (partikel titanium dioksida). Memang bahan ini kurang efisien tetapi unggul dari segi harga.
Penggunaan quantum dots juga mulai dilakukan sejumlah grup riset untuk menangkap radiasi surya pada gelombang elektromagnetik tertentu, yaitu pada panjang gelombang inframerah. Sel surya yang dapat dibawa kemana mana membantu dalam bidang militer untuk tentara yang berada di medan pertempuran. Sel surya tersebut harus memiliki tingkat efisiensi yang tinggi karena mobilitas peperangan sangat tinggi dan berada di daerah yang susah mencari sumber energi konvensional. Meningkatkan efisiensi sel surya harus dibayar dengan biaya produksi yang tinggi pula. Untuk mengurangi biaya tersebut, para ahli menggunakan konsentrator untuk memfokuskan sinar matahari ke sel surya.
sumber : APS NEWS March 2008